15/10/16

(Chapter 1) Perjalanan Jogja-Jember

10 Januari 2015.

Pagi itu, tepatnya pukul 05:00 WIB aku sudah bangun dan menata berbagai kebutuhanku yang akan aku bawa ke Jember. Ya. Jember. Kalau tidak salah, ada 3 tas yang aku bawa dari Jogja. Tas ransel, tas jinjing, dan satu lagi tas tangan. Ketiga tas tersebut memiliki fungsi untuk mewadahi baju-baju, dokumen, laptop, makanan, dan segala kebutuhanku selama aku di Jember sebulan ke depan. Tas ransel ku penuhi dengan berbagai dokumen yang aku perlukan, tas jinjing aku penuhi dengan baju-baju, dan tas tangan aku penuhi dengan makanan serta minuman. Tak lupa aku juga membawa seperangkat alat pendukung hits. Maksudnya? Ya, alat-alat hits pada waktu itu, yaitu tongsis a.k.a tongkat narsis a.k.a monopod yang aku beli beberapa hari sebelum keberangkatan. Selain itu, aku juga membeli micro lens a.k.a lensa mikro a.k.a lensa mata ikan yang bisa membuat foto kita jadi hits.

pemandangan indah dalam perjalanan Jogja-Jember (cr. instagram)

Bayangkan.

Hanya dalam beberapa hari sebelum keberangkatan, aku menghabiskan uang untuk membeli peralatan pendukung hits tersebut. Yah, ndak apa-apa lah ya, itung-itung uang untuk membeli itu semua bukan minta dari orang tua, tapi dari beasiswa *wah penyalahgunaan ini hehe*.

Setelah semuanya sudah tertata rapi di tas, kemudian aku pastikan sekali lagi supaya tidak ada barang yang tertinggal, terlebih jika itu adalah dokumen penting yang sangat aku butuhkan dikemudian hari. Jam sudah menunjukkan pukul 06:00. Bergegas ibuku menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu. Ibu tidak pernah lupa untuk mengingatkan anaknya supaya jangan membeli makanan di kereta, alasannya? Simpel, mahal cuy hehe. Selain mahal, makanan kereta cuma seuprit, bisa dikata ga sesuai sama harganya yang setinggi langit.

Hasil narsis dengan micro lens dan tongsis haha
Sarapan selesai tepat pukul 06:30, kemudian aku bergegas untuk pergi ke Stasiun Lempuyangan agar tidak terlambat. Waktu itu, aku diantar oleh kakak kembaranku. Biasanya ibu yang mengantar, namun karena beberapa hari sebelumnya ibu mengalami kecelakan. Kaki sebelah kirinya sedikit keseleo sehingga tidak bisa naik motor dulu, bahkan untuk jalan dan beraktivitas saja masih kesusahan. Terpaksa, waktu itu aku pergi sendirian tanpa ditemani anggota keluarga. Lagian aku juga tidak ingin merepotkan mereka. Selain aku sadar bahwa aku sudah dewasa yang harus belajar mandiri. Tidak melulu harus diantar atau ditemani orang tua.

Hasil narsis dengan micro lens tanpa tongsis haha
Kalau tidak salah, aku sampai di stasiun pukul 07:15 WIB. Sesampainya di sana, aku langsung menuju pintu utama dan memberikan tiket serta KTP untuk diperiksa oleh petugas. Tak lupa, sebelum itu aku berterima kasih kepada kakak kembaranku yang sudah mengantarkan sampai stasiun. Tak ada banyak kata yang terucap diantara kami. Ya, inilah potret keluarga kami. Singkat, padat, dan jelas. Hanya kata-kata sederhana yang sempat terucap, seperti "Ati-ati yo ndess" *Hati hati ya ndes *ndes adalah panggilan akrab kami berdua di rumah*. Ucapan perpisahan kala itu pun hanya sesimpel itu.

Setelah masuk pintu utama stasiun, kemudian petugas menyuruhku untuk langsung masuk ke dalam kereta. Ternyata keretaku sudah stand by di peron 3 *kalau tidak salah ingat*. Langsung saja aku masuk ke gerbong dan tempat duduk yang tertera pada tiket. Well, ini pengalaman pertamaku pergi jauh menggunakan kereta sendirian. *sendirian, sendirian, sendirian* Iya udah sering sendirian kok, jadi santai aja hahaha.
Indahnya Gunung Merapi dan Gunung Merbabu
Sepagi itu dikereta sangat sepi. Jauh dari hiruk pikuk penumpang. Hanya ada beberapa orang di dalam gerbong. Terpaksanya aku duduk sendirian terlebih dahulu. Mulai memasuki stasiun Solo, kereta mulai dipenuhi penumpang. Seterusnya sampai stasiun Kediri, Surabaya Gubeng, dan stasiun-stasiun kecil lainnya yang tidak ku ingat namanya hehe. Perjalanan Jogja-Jember ternyata melewati banyak stasiun, ku kira ada kurang lebih total 20an stasiun *kalau tidak salah ingat ya ^^*, hal ini dikarenakan kereta yang aku tumpangi adalah kereta ekonomi. Jadiiii ya maklum sering berhenti, apalagi di stasiun-stasiun kecil.

Saat awal merencanakan perjalanan Jogja-Jember, sebenarnya aku ingin sekali naik kereta eksekutif. Namun, hal ini ditentang oleh ibuku. Beliau mengatakan bahwa jika aku menggunakan transportasi eksekutif sama saja aku memboroskan uang. Lagian kan aku masih mahasiswa belum punya penghasilan tetap sendiri. Logis memang alasan tidak direstuinya naik kereta eksekutif itu. Padahal aku berpikir jika menggunakan kereta eksekutif akan lebih nyaman, aman, dan tentunya cepat sampai tujuan. Sayangnya yayasan ayah bunda berkata tidak untuk mencairkan dana pendukung transportasi Jogja-Jember. Tapi menggunakan kerete ekonomi juga bukan pilihan yang buruk. Dulu memang kondisi kereta ekonomi sangatlah suram, tetapi sekarang wajah kereta ekonomi telah berubah drastis. Seperti yang aku ceritakan ketika aku pergi ke Malang waktu itu. Keretanya nyaman, ber-AC, tidak ada pedagang asongan yang asal berseliweran, dan yang terbaik adalah tidak ada lagi asap rokok! Yeay! Terima kasih PT. KAI :).

Suasana senja di luar kereta
Perjalanan Jogja-Jember menghabiskan kurang lebih 12 jam lamanya. Bayangkan. Selama itu aku hanya duduk tertegun sambil sesekali baca buku, cek hp, ngobrol dengan penumpang lain, melihat pemandangan sekitar kereta, dan tentunya memejamkan mata sebentar. Hmmm, sayangnya kala itu aku dapat teman penumpang seorang bapak-bapak yang sangat hobi bercerita ngalor-ngidul *seperti basa-basi*. Senang sih bisa diajak ngobrol, sayangnya kok seperti membual saja bapak itu. Ah...sudahlah, toh sudah berlalu juga hahaha tapi itu sangat berkesan, soalnya biasanya aku hanya bisa menanggapi orang-orang yang seperti itu dengan anggukan dan di-iya-in aja deh daripada ribet wkwk. Jujur sih, jengkel juga kalo ketemu sama penumpang macam itu. Kesel iya, apalagi kalo ngalor-ngidulnya udah melalang buana huh. Okay, kita lanjutkan saja ceritanya ya hahaha daripada ikut kebawa kesel? :p~

Salah satu jalan di Daerah Kediri yang difoto dari dalam kereta
By the way, kalau temen-temen pembaca juga pernah ketemu sama penumpang macem yang aku ceritain itu, bisa loh saling berbagi dikolom komentar. Sepertinya aku butuh sesuatu cara agar bisa menghindari tipe penumpang yang ngeselin kek gitu hahaha. Maaf ya, bukannya ga ramah, tapi kadang malesin sih kalo obrolannya ngalor-ngidul dan intinya? Basa-basi doang! Hehehe *sok iyes mah aku ini ya wkwkwk macem kalo ngobrol ga kemana-mana ajaaaa hihi*.

But, wait! Untung saja waktu itu ada penumpang lain, ibu-ibu udah seumuran nenek-nenek gitu asli kediri yang tujuannya Banyuwangi. Well, bapak yang ngajak aku bicara itu juga tujuannya Banyuwangi hahaha. Seperti malaikat penolong, ibu itu jadi referensi lain untuk bisa stop ngobrol sama tuh bapak-bapak *i'm save!*. Dan sepertinya ibu itu juga ga begitu tertarik ngobrol sama tuh bapak-bapak, abisnya ngeselin abis sih, batrenya ga abis-abis buat ngobrol. Percaya gak percaya ya, coba aja kalian ada di sana waktu itu hahaha.

Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. 30 menit kereta terlambat memasuki stasiun Jember. Di luar kondisi sudah gelap, bahkan aku bisa mendengarkan suara adzan maghrib di dalam kereta. Perasaan campur aduk sudah tak terbendung dibenakku, pasalnya aku menjanjikan pada bapak penjemput bahwa kereta akan tiba pukul 18.30 WIB. Sekiranya aku telah membuat bapak penjemput menunggu selama 30 menit di stasiun Jember. Sempat terjadi kepanikan, tapi apalah daya, hal itu tidak akan membuat keadaan berubah. Yah sudahlah, nanti aku akan minta maaf dan bilang kalau kereta terlambat, pikirku menenangkan diri.

Ini juga masih satu jalan di Daerah Kediri
Sesampainya di luar stasiun, yang aku lihat pertama kali adalah handphoneku. Sudah ada beberapa sms dari bapak penjemput yang menunjukkan bahwa beliau sudah menunggu di luar stasiun. Gelapnya kondisi saat itu membuatku buta keadaan hihihi, ternyata kalau siang hari luas stasiun Jember tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar. Tidak membutuhkan waktu lama, aku pun bertemu dengan bapak penjemput yang kebetulan membawa anaknya yang masih kecil, kalau tidak salah namanya Amelia, Amel panggilannya. Anaknya lucu, imut, cepat sekali berkenalan, duh jadi kangen sama dek Amel :3. Barang-barang yang aku bawa sudah masuk ke dalam bagasi mobil, waktunya aku untuk menuju rumah sekaligus kos-kosan sebagai tempat tinggal selama sebulan ke depan. 

Yeay! Pengalaman dan petualangan selama kerja lapangan dimulai! :D

Stay update with my 'Kerja Lapangan' story! Don't miss it ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar